:::::: Welcome :: Selamat Datang :: Sugeng Rawuh :: いらっしゃい :::::::

WELCOME TO CHEZ-SPACE.BLOGSPOT.COM | SELAMAT DATANG | JANGAN LUPA FOLLOW YAH | DITUNGGU KOMENTARNYA | THANK YOU
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Showing posts with label CITIES. Show all posts
Showing posts with label CITIES. Show all posts

Sunday, February 10, 2013

Sudah Tahu Tempat Nongkrong Baru di Solo?

Sudah tahu tempat nongkrong terbaru di kota solo?? Kalau belum, berarti Anda bukan orang Solo, dan kalau Anda orang solo tapi belum tahu berarti anda telah menghabiskan 1 tahun hidup anda di dalam gua. Entah disengaja atau tidak, setiap proyek fasilitas umum yang dilakukan oleh Pemkot Solo selalu menjadi tempat yang asyik buat nongkrong anak muda di Solo. :)

Dimanakah tempat tersebut?? Eng ing eng.. Tempat nongkrong baru di Kota Solo adalah Jalan Koridor Jenderal Sudirman. Koridor Sudirman merupakan jalan dua arah yang memanjang dari utara ke selatan (dan sebaliknya) dari depan Balaikota hingga bundaran di Gapura Gladag, arah ke Keraton Kasunanan. Proyek ini sebenarnya merupakan proyek yang (saya) tunggu-tunggu, pasalnya di kawasan ini terdapat bangunan-bangunan yang sebenarnya ciamik namun terlihat semrawut dan sangat jauh dari kata rapi, contohnya Benteng Vastenburg.

Penampakan Koridor Sudirman yang baru. look clean :)
(ada yang ngelanggar jalan tuh)

Dulu, setiap saya melewati jalan ini saya tidak merasa berada di pusat sebuah kota. Setiap bangunan dilindungi pagar-pagar tinggi, belum lagi separator beton yang tidak menambah keindahan, namun justru tidak sedap dipandang mata. Dan saat menengok ke arah Benteng Vastenburg, yang ada malah miris. Rumput liar tumbuh, bahkan sangat tinggi (siapa ya yang rajin nyirami rumput :p), benar-benar membuat kesan sebuah benteng yang angker dan suram. Belum lagi masih ada beberapa tanah yang tidak terpakai, padahal kan di pusat kota. Tapi itu dulu..

Sepeninggal Jokowi ke Jakarta tidak membuat pembangunan Solo mundur lho :D (peace pak). Meskipun punya Walikota baru, toh proyek ini terus dijalankan, dan sepertinya anak muda di Solo harus berterima kasih dulu sama Bank Indonesia. Entah ada kaitannya atau tidak, namun pembangunan gedung Bank Indonesia yang baru semakin memicu kawasan ini untuk menjadi spot baru di Kota Solo. Setelah bangunan ini kelar, proyek Koridor Sudirman mulai dijalankan. Dimulai dengan:
1. Merobohkan setiap pagar bangunan di kawasan ini (tak terkecuali Balaikota)
2. Menghilangkan separator beton dan menggantinya dengan "mata kucing"
3. Menghilangkan lampu merah, dan mengharuskan kendaraan melaju dari satu sisi ke sisi lainnya bila akan memutar (masih ada yang belum sadar lalu lintas, masih aja diterobos. "Indonesia")
4. Membabat habis rumput di sekitar Benteng Vastenburg
5. Membangun kawasan city walk di luar Benteng Vastenburg, dilengkapi dengan kursi-kursi dan lampu taman, terhubung dengan kawasan jajanan malam Galabo
6. Mengubah pom bensin menjadi kawasan public space (sedang dikerjakan)

 Proses pengecatan (?) jalan

 Proses perobohan pagar (Bongkar bongkar bongkar!!) XD

 Lampu-lampu

 Cuma boleh muter disini

Pembukaan Koridor Jensud oleh Pak Wali

Dan dengan perubahan tersebut apa yang terjadi selanjutnya?? Yup, seperti judul di atas, saat saya keluar malam hari dan melewati kawasan ini dipenuhi anak-anak muda yang sedang asyik nongkrong maupun foto-foto, menjadi suatu kawasan yang ramai. Dan primadona-nya adalah, gedung baru Bank Indonesia XD. Penasaran??
.Chez-space.blogspot.com

Share artikel ini:

Friday, October 19, 2012

Solo Memang Gelap. Tapi..


Masih teringat dengan komentar pedas Amien Rais beberapa waktu lalu yang mengatakan bahwa Kota Solo itu gelap. Bila ternyata dibuktikan, memang benar, Kota Solo terlihat gelap pada malam hari, atau setidaknya masih kurang terang dibanding Kota Semarang ataupun Yogyakarta. Pak Amien Rais, Beliau orang Solo, namun tinggal lama di Jogja, dan banyak menghabiskan waktu di Jakarta. Sedangkan saya (penulis), tempat tinggal saya berada di pinggir Kota Solo, jadi saya selalu tahu dan memperhatikan apa yang terjadi pada Kota Solo dalam kurun waktu beberapa tahun ini.

Sebelum saya menyampaikan poin-poin tentang "gelapnya Kota Solo" (dan semoga dibaca oleh beliau), mungkin Pak Amien Rais hingga sekarang masih belum sadar bahwa Solo dulu dan sekarang itu sangat berbeda. Pak, Anda perlu menginap di Solo selama satu minggu sambil jalan-jalan keliling kota pada malam hari, maka Anda akan mengerti.

Alasan Kota Solo terlihat gelap (kurang terang) pada malam hari:

1. Apakah Pak Amien Rais pernah mendengar tentang konsep eco-cultural city? Ya, saat ini Kota Solo sudah mulai mengadopsi konsep tersebut. Pagar-pagar tinggi yang membatasi pengguna jalan dan gedung-gedung di Kota Solo akan dirubuhkan, diganti dengan tanaman hijau. Lalu apa hubungan eco-cultural city dengan kondisi malam yang gelap?

Di jalan Slamet Riyadi contohnya, sejak dulu hingga sekarang banyak pohon-pohon besar dibiarkan tumbuh dan bahkan agak mengganggu (menutupi) bangunan dibelakangnya. Nah, pada saat malam hari, ribuan lampu kota yang menerangi jalan tersebut juga banyak yang terhalang oleh rindangnya pepohonan tersebut. Memang begitulah resikonya, namun manfaat yang akan kita petik di masa mendatang jauh lebih banyak dengan membiarkan pohon-pohon tersebut masih kokoh berdiri.

2. Masih berhubungan dengan poin di atas, lampu-lampu taman, balaikota, dan yang lainnya jarang dihidupkan pada malam hari. Memang, saya sendiri pernah bergumam, seandainya lampu-lampu tersebut dihidupkan pasti akan lebih cantik. Pada kenyataannya, lampu-lampu tersebut hanya dihidupkan saat hari-hari tertentu seperti saat liburan dan sebagainya.

Jadi kesimpulannya, apa yang dilakukan Pemkot Solo adalah semata-mata untuk PENGHEMATAN ENERGI dan upaya sebagai kota yang RAMAH LINGKUNGAN. Dari kedua poin diatas, saya rasa tak akan ada lagi orang yang merasa keberatan dengan kondisi Kota Solo (meskipun sebenarnya Kota Solo juga nggak gelap-gelap amat, mungkin Pak Amien Rais yang lebay kali).
- Chez-space.blogspot.com

Wednesday, August 29, 2012

Oslo dan Solo, Tak Sekedar Mirip


Oslo dan Solo, kedua nama kota ini sangat mirip meskipun berada di negara berbeda. Sekedar mengingatkan, nama Kota Solo resminya adalah Surakarta, namun branding yang dilakukan pemkot Kota Surakarta untuk pariwisata kota ini memakai nama Solo. Selain itu Wong Solo (sebutan untuk orang yang berdomisili di Solo) lebih sering menyebut nama Solo dalam percakapan sehari-hari dibandingkan Surakarta.

Sementara Oslo sendiri merupakan salah satu nama kota di Norwegia yang juga merupakan Ibukota dari negara tersebut. Jumlah penduduk di Kota Oslo boleh dibilang hampir sama dengan Kota Solo, yakni diangka lima ratus ribuan jiwa, dimana jumlah penduduk Oslo sekitar 590.041 jiwa, sedangkan Solo berpenduduk 503.421 jiwa. Oslo memiliki luas Kota sekitar 45.403 km2, sedangkan Solo 44,03 km2.

Selain kedua hal tersebut, kemiripan Kota Solo dan Oslo adalah dalam bidang transportasi massal. Meskipun harus diakui memang Oslo lebih unggul dan jauh lebih maju dalam hal ini, namun setidaknya Solo juga mampu mengakomodasi transportasi dengan baik dalam skala negara kita sendiri.

 Transportasi massal di Kota Oslo

Transportasi massal di Kota Solo

Beberapa waktu yang lalu, Duta Besar Norwegia untuk Indonesia, Stig Ingemar Traavik, mengunjungi Walikota Solo, Jokowi di rumah dinas walikota Loji Gandrung. Stig tertarik untuk datang ke Solo karena Solo merupakan pusat kebudayaan Jawa dan juga karena rasa penasaran dengan sosok Jokowi yang dikenal ramah dan merakyat. “Saya juga banyak mendengar beliau saat ini sedang mengikuti pemilihan sebagai calon gubernur DKI Jakarta.” kata Stig.

Dalam kesempatan tersebut, Stig juga mengundang Jokowi untuk datang ke ibukota negaranya, Oslo, dan mempelajari sistem transportasi massal yang ada disana. - Chez-space.blogspot.com

Share artikel ini:

Tuesday, August 21, 2012

Patung-patung Mengagumkan di Kota Solo

Saat kita berkunjung ke sebuah kota manapun, sering kita temui beberapa patung yang indah menghiasi setiap sudut jalanan. Entah itu Jakarta, Bandung, Surabaya, Denpasar, maupun kota-kota lainnya, karya seni manusia ini selalu nampak menonjol diantara bangunan lainnya. Biasanya patung di kota-kota tersebut dibuat sebagai ikon kota, monumen, maupun filosofi tertentu.

Patung-patung indah ini kerap dijadikan sebagai obyek maupun latar belakang saat kita ingin berfoto-foto ria bersama kawan maupun keluarga. Jadi mereka yang melihat foto kita pun mungkin ada yang tahu dimana foto tersebut diambil. Disini saya akan menyebutkan beberapa patung-patung indah di Kota Solo yang mungkin bisa anda jadikan referensi tempat foto-foto anda bersama teman-teman.

1. Vila Patung Semar


Sengaja saya tempatkan pada urutan pertama, karena dari sekian patung yang terdapat di penjuru Solo Raya, patung inilah yang paling mengagumkan. Vila Patung Semar ini merupakan sebuah vila berbentuk patung semar yang terletak di Kecamatan Karangpandan, berdiri megah diatas lahan yang lumayan luas, dan dikelilingi hamparan sawah pedesaan yang hijau. Meskipun vila ini telah lama tidak beroperasi, namun kita masih bisa bebas masuk ke dalam kawasan ini.

2. Monumen Brigjend Slamet Riyadi


Monumen ini terletak di ujung Jalan Slamet Riyadi yang merupakan jalan protokol utama di Kota Solo. Terletak di pusat kota dekat dengan kilometer 0 Kota Solo menjadikan monumen ini sebagai ikon utama Kota Solo.

3. Patung Pandawa Lima


Satu lagi karya seni yang mengagumkan dapat kita temui di kawasan kota satelit Solo Baru. Solo Baru merupakan kawasan perumahan elit yang banyak dihiasi oleh petung-patung nan apik. Beberapa patung disini sengaja didatangkan dari Bali dengan detail yang menarik, seperti Patung Pandawa Lima, Gatotkaca, maupun Jathayu.

4. Patung Prabu Krisna


Di Solo Baru juga terdapat arena water boom dengan nuansa wayang yang kental. Disini dapat kita jumpai patung-patung beberapa tokoh pewayangan, dan yang berdiri paling besar adalah wajah Prabu Krisna yang bahkan bisa kita lihat dari kejauhan.

5. Patung Manahan


Di sekitar kawasan Stadion Manahan kita bisa menjumpai 3 patung dengan letak yang terpisah. Dua dari petung tersebut terletak di luar kompleks stadion berupa patung pemanah dan patung pembawa obor. Sedangkan di dalam kompleks stadion akan kita temui patung berupa sepasang tokoh wayang sedang memanah tepat di depan pintu masuk stadion.


6. Monumen Banjarsari


Mungkin ada yang sudah pernah mendengar monumen yang satu ini. Monumen ini kerap dibicarakan di media massa ketika Wali Kota Solo memindahkan ratusan PKL tanpa kekerasan dan menjadikan kawasan ini menjadi lebih bersih lagi.

7. Patung Taman Balekambang


Di Taman Balekambang terdapat dua patung perempuan yang merupakan anak dari raja Mangkunegaran. Salah satunya terletak di kolam air mancur, dan satunya lagi ditengah-tengah kolam besar. Patung ini muncul juga dalam iklan salah satu obat masuk angin beberapa waktu lalu.

8. Monumen Mayor Achmadi


Monumen yang belum lama dibangun di Kota Solo. Kerap dijadikan sebagai tujuan edukasi beberapa siswa sekolah dasar. Dikelilingi oleh relief yang menggambarkan perjuangan Mayor Achmadi.


9. Arca Dewi Saraswati


Arca ini terletak di kompleks Candi Cetho di Kecamatan Ngargoyoso. Terdapat di belakang bangunan candi, arca ini masih digunakan oleh umat Hindu untuk ritual keagamaan. Merupakan hadiah dari pemerintah Bali, arca ini sengaja ditempatkan untuk menambah daya tarik Candi Cetho. - Chez-space.blogspot.com

Share artikel ini:

Thursday, August 9, 2012

Apakah Solo Masih Layak Disebut Kampung?

Kebanyakan masyarakat di Jakarta menganggap Kota Solo ibarat sebuah ‘kampung’. Entah apakah masyarakat Indonesia di kota lainnya juga mengatakan hal yang sama, tapi Wong Solo (sebutan untuk orang Solo) masih bangga dengan sebutan ‘kampung’ tersebut. Setahu saya, kampung adalah tempat yang asri, sejuk, nyaman, dan masih banyak kegiatan warga lokal dapat kita temui di kampung. Menyenangkan.

Namun, bagi warga yang berdomisili di daerah Solo Raya, meliputi Karanganyar, Klaten, Sukoharjo, Wonogiri, Boyolali, dan Sragen, Solo adalah sebuah kota pusat dari segala keramaian dan hiburan. Banyak dari mereka mencari nafkah di Solo. Dolan ke Solo merupakan gengsi tersendiri bagi sebagian besar masyarakat di Solo Raya, jalan-jalan, wisata sejarah, belanja di mal dan aktifitas lainnya berpusat di kota ini.

Yang jadi menarik menurut saya, dua presepsi tersebut sangatlah berbeda satu sama lain. Mungkin orang di luar sana (khususnya Jakarta) tidak mengerti betul dengan apa yang terjadi di kota Solo dalam beberapa tahun terakhir. Sedangkan warga yang bersdomisili di Solo Raya tentu akan mengikuti segala perkembangan di Kota Solo yang merupakan mother city-nya. Dengan melihat beberapa gambar Kota Solo dibawah ini, apakah Kota Solo masih layak disebut ‘kampung’?














Saya tidak mengerti betul bagaimana pengertian kampung yang benar menurut masyarakat luas (khususnya Jakarta), namun setahu saya bukannya kampung itu seperti ini ya:

 
 Kampung Luar Batang - Jakarta Utara

- Chez-space.blogspot.com
Share artikel ini:

Thursday, August 2, 2012

Kota Jakarta, Kota Macet, Kota Polusi

Mari kita ke Jakarta. Sebuah kota megapolitan yang merupakan Ibukota dari negara kita, Indonesia. Ada apa saja di Jakarta? Ada segalanya kawan. Mall, bangunan real estate, apartemen, hotel-hotel mewah, gedung-gedung pencakar langit yang megah, bahkan hiburan malam yang menggiurkan. Namun jangan kaget saat kamu pertama kali menginjak tempat ini. Kenapa?

Pertama, untuk sambutannya Kota Jakarta akan menyapa kalian dengan yang namanya macet. Itu baru sambutan, sementara menu utamanya ada banyak, terutama polusi. Polusi di Jakarta itu....... Keren. Keren lho ada kota seperti ini. Coba deh lihat:

NB: Ini bukan spesial efek maupun properti film lho, ini aseli.









Nah, kira-kira begitulah Jakarta. Memang keren dan mengerikan, tapi jangan salahkan pemimpinnya ya, juga jangan salahkan penduduknya, semuanya juga sebenarnya nggak mau begitu kok. Coba saja Jakarta seperti ini:


Tuh lihat, udah bersih, langitnya juga cerah tanpa polusi. Atau nggak usah jauh-jauh deh, ni juga ada kota di Indonesia yang bersih kayak gitu. Nih contohnya.

Ada yang tahu ini kota mana?

- Chez-space.blogspot.com
Share artikel ini:

Wednesday, July 18, 2012

Peninggalan Berharga Jokowi untuk Solo

Sebagai Wali Kota Surakarta atau Solo dan telah memimpin selama (hampir) 2 periode, Jokowi telah berhasil melakukan pembangunan yang berarti di Kota Bengawan. Saya lebih suka menyebut ini dengan jejak peninggalan Jokowi di Kota Solo. Ir. Joko Widodo (Jokowi) telah dikenal di seluruh Indonesia karena kesederhanaanya, keberaniannya, dan sifat-sifat super lain yang melekat pada nama Jokowi. Namun disini saya hanya akan membahas tentang pembangunan yang telah dilakukan Pemkot Solo selama 2 periode Jokowi di Solo.

Kebanyakan dari pembangunan pada masa Jokowi ini mengedepankan pada fasilitas massal, sektor ekonomi di perdagangan, maupun pendidikan dan kesehatan. Gambar-gambar berikut merupakan hasil pembangunan di Kota Solo pada masa pemerintahan Jokowi.

Jalur lambat sebelah kanan di sepanjang Jl. Slamet Riyadi diubah menjadi City Walk, sebuah Pedestrian way yang teduh, dipenuhi taman dan pohon-pohon besar, dihias dengan motif batik.

PKL yang sebelumnya betebaran di jalanan diberikan tempat khusus sebagai pusat kuliner malam di Solo. Gladag Langen Bogan atau Galabo ini buka mulai sore hingga tengah malam dengan menutup jalan satu arah menuju perempatan Sangkrah..

Ngarsopuro, sebuah kawasan yang artistik. Dihiasi lampu sangkar burung, patung-patung, topeng-topeng dan lukisan yang cantik, dan lagi pasar malam yang diadakan setiap akhir pekan. Dulunya kawasan ini merupakan kawasan kumuh dan tidak tertata dengan baik.

Pasar Windujenar merupakan Pasar Triwindu dengan format baru. Berpindah lokasi di kawasan Ngarsopuro membuatnya menjadi semakin kental dengan nuansa seni. Pasar ini hanya menjual barang antik, kebanyakan pembeli di pasar ini adalah turis-turis asing.

Para PKL yang dulunya menempati Monumen Banjarsari dan membuat daerah itu menjadi semrawut dan berantakan dipindahkan ke Pasar Notoharjo, khusus menjual peralatan motor, sepatu, dan barang-barang second.

Monumen Banjarsari setelah pemindahan PKL (bersih kan?).

Monumen baru Mayjen Achmadi yang baru selesai dibangun.

Monumen Brigjend Slamet Riyadi di pusat Kota Solo.

Revitalisasi Pasar Gading.

Revitalisasi Pasar Kleco.

Revitalisasi Pasar Kembang.

Pembangunan Pasar Pucang Sawit.

Pembangunan Pasar Panggungrejo.


Pembangunan Pasar Ikan dan Pasar Ikan Hias.

Taman Balekambang yang dulunya terlantar, tidak terawat, dan bahkan isu-isunya menjadi sarang dedemit dipugar kembali dengan menambahkan bangku taman, rusa-rusa liar, dan fasilitas hotspot. Ditambah lagi dibangun Taman Reptil di kawasan ini.

Taman Reptil Balekambang.



Pembangunan taman di sekitar Terminal Tirtonadi, dan masterplan bangunan Terminal yang baru yang akan memiliki fasilitas setaraf bandar udara.

Tanah gundukan sampah dipinggiran Sungai Kalianyar disulap menjadi Taman Sekartaji memanjang di seanjang sungai tersebut.

Dibuat sebuah ruang apik dengan memanfaatkan halaman city walk dan pintu masuk ke Taman Sriwedari dengan nama Plasa Sriwedari.

Batik Solo Trans.

Sepur Kluthuk Jaladara.

Bus Tingkat Werkudara.

Railbus Batara Kresna.

Solo Techno Park.

Pembangunan RSUD Surakarta.

Renovasi Stasiun Purwosari.

Dan masih banyak lagi lainnya. :)

Share artikel ini:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
"Pembaca yang baik akan meninggalkan komentar dengan nama, bukan hanya "Anonim". Terima Kasih."