:::::: Welcome :: Selamat Datang :: Sugeng Rawuh :: いらっしゃい :::::::

WELCOME TO CHEZ-SPACE.BLOGSPOT.COM | SELAMAT DATANG | JANGAN LUPA FOLLOW YAH | DITUNGGU KOMENTARNYA | THANK YOU
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Monday, May 14, 2012

Tradisi Apem Sewu di Kampung Sewu

sumber gambar: omahsinten.net

Beberapa minggu yang lalu tentu kita masih teringat akan suatu peristiwa bentrok antar ormas di Kota Solo, tepatnya di kelurahan Kampung Sewu. Namun apakah kalian tahu bahwa dibalik peristiwa tidak menyenangkan tersebut, sebenarnya Kampung Sewu sendiri menyimpan suatu tradisi yang sangat unik, Apem Sewu namanya.

Apem sewu adalah acara ritual syukuran masyarakat Kampung Sewu, Solo, yang digelar setiap bulan haji (bulan Zulhijah-kalender penanggalan Islam). Ritual syukuran itu diadakan untuk mengenalkan Kampung Sewu sebagai sentra produksi apem kepada seluruh masyarakat sekaligus menghargai para pembuat apem yang ada di sana.

Selain itu, ritual ini pun dibuat sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan karena desa dan tempat tinggal mereka terhindar dari bencana. Mengapa begitu? Menurut Ketua Pelaksana Kirab Apem Sewu, Pak Hadi Sutrisno, letak Kampung Sewu Solo ini adanya di pinggir Sungai Bengawan Solo, termasuk daerah rawan banjir. Makanya, masyarakat mensyukurinya.

Sejarah Tradisi Apem Sewu

Tradisi apam sewu berawal dari amanah yang disampaikan Ki Ageng Gribig kepada seluruh warga untuk membuat 1.000 kue apam dan membagikannya kepada masyarakat sebagai wujud rasa syukur.
 
Sejalan dengan berkembangnya zaman, maka ritual kirab apem sewu ini diawali dengan kirab budaya warga Solo yang memakai pakaian adat Solo, seperti kebaya, tokoh punakawan, dan kostum pasukan keraton.
Anak-anak sekolah juga menjadi peserta kirab dengan menampilkan marching band SD, atraksi Liong (naga), serta aneka pertunjukan tarian tradisional dan teater.

1.000 kue apem yang sudah disusun menjadi gunungan itu diarak dari lapangan Kampung Sewu menuju area sekitar kampung sepanjang dua kilometer. Acara kirab berlangsung selama satu hari, yang dimulai dengan prosesi penyerahan bahan makanan (uba rampe) pembuat kue apam dari tokoh masyarakat Solo kepada sesepuh Kampung Sewu di Lapangan Kampung Sewu, Solo.

Aura Mistis Kabut Gunung Salak

sumber gambar: nazmudin-10109703.webege.com

Gunung Salak mungkin bisa disebut sebagai "kuburannya pesawat terbang", seperti yang terjadi pada Sukhoi Superjet 100 beberapa waktu lalu. Gunung ini sering dibumbui dengan aura mistis karena selalu dikelilingi kabut yang tebal. Secara logika, kabut tersebut bisa jadi merupakan faktor utama kecelakaan pesawat terbang yang sedang melakukan manuver disana.

Bagi kalangan pegiat alam bebas sendiri, karakteristik gunung tersebut memang terbilang unik dibandingkan gunung-gunung lainnya di Pulau Jawa, atau bisa dikatakan karakteristiknya menyerupai dengan gunung di Bukit Barisan yang membelah Bumi Andalas atau Sumatera. Bahkan, gunung tersebut juga banyak menelan korban dari kalangan pendaki gunung, mengingat cukup ekstremnya medan ditambah dengan kondisi hutan yang cukup lebat. Alhasil, memudahkan orang yang kurang memahami dunia alam bebas, tersesat di gunung tersebut.

Dari data Wikipedia menyebutkan, hutan di Gunung Salak terdiri dari hutan pegunungan bawah (submontane forest) dan hutan pegunungan atas (montane forest). Bagian bawah kawasan hutan, semula merupakan hutan produksi yang ditanami Perum Perhutani. Beberapa jenis pohon yang ditanam di sini adalah tusam (Pinus merkusii) dan rasamala (Altingia excelsa). Kemudian, sebagaimana umumnya hutan pegunungan bawah di Jawa, terdapat pula jenis-jenis pohon puspa (Schima wallichii), saninten (Castanopsis sp.), pasang (Lithocarpus sp.) dan aneka jenis huru (suku Lauraceae).

Di hutan ini, pada beberapa lokasi, terutama di arah Cidahu, Sukabumi, ditemukan pula jenis tumbuhan langka yang bernama Rafflesia rochussenii, yang menyebar terbatas sampai Gunung Gede dan Gunung Pangrango di dekatnya. Pada daerah-daerah perbatasan dengan hutan, atau di dekat-dekat sungai, orang menanam jenis-jenis kaliandra merah (Calliandra calothyrsus), dadap cangkring (Erythrina variegata), kayu afrika (Maesopsis eminii), jeunjing (Paraserianthes falcataria) dan berbagai macam bambu.

Kembali dengan persepsi Gunung Salak menjadi 'kuburan' pesawat terbang, serangkaian kecelakaan pernah terjadi di gunung yang masuk ke wilayah Taman Nasional Gunung Salak Halimun itu. Di antara catatan itu, pada 15 April 2004, pesawat Paralayang Red Baron GT 500 milik Lido Aero Sport, jatuh di Desa Wates Jaya, Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor. Sedikitnya tiga orang dinyatakan tewas dalam kecelakaan itu.

Pada 20 Juni 2004, pesawat Cessna 185 Skywagon, jatuh di Danau Lido, Cijeruk, Bogor dengan lima orang tewas. Lalu empat tahun kemudian pada periode yang sama atau Juni 2008, pesawat Casa 212 TNI AU jatuh di Gunung Salak di ketinggian 4.200 kaki dari permukaan laut dengan 18 orang tewas.

Setahun berselang, pada 30 April 2009, kecelakaan kembali terjadi. Kali ini korbannya pesawat latih Donner milik Pusat Pelatihan Penerbangan Curug yang jatuh di Kampung Cibunar, Desa Tenjo, Kecamatan Tenjo, Kabupaten Bogor. Tiga orang tewas dalam kecelakana itu.

Dan terakhir menimpa pesawat Sukhoi Superjet 100 buatan Rusia, Rabu, 9 April 2012 yang jatuh di Gunung Salak dengan jumlah penumpang 46 orang.

Staf Ahli Menristek Bidang Pertahanan Keamanan, Hari Purwanto menyatakan, penerbangan melalui kawasan Gunung Salak tidak seharusnya di ketinggian enam ribu kaki, karena tinggi gunung itu sendiri sekitar 2.200 meter dengan kondisi awan tebal yang selalu meliputi pegunungan itu.

"Biasanya penerbangan dari Halim menuju Pelabuhan Ratu di ketinggian 12.000 kaki dan standar minimum delapan ribu kaki, tapi Sukhoi ini terbang dari ketinggian 10 ribu kaki mengapa turun ke enam ribu kaki," kata Hari Purwanto di Makassar, Kamis (10/5) kemarin.

Menurut dia, ada tiga faktor penyebab jatuhnya sebuah pesawat, yaitu faktor cuaca, faktor kesalahan manusia, dan faktor kelaikan pesawat. Ia juga mengingatkan, Bandara Halim Perdanakusuma ke Pelabuhan Ratu via Gunung Salak, bukan jalur penerbangan dan bukan area yang aman untuk penerbangan. Apalagi, untuk pilot yang tidak terlalu mengerti medan.

Pesawat Sukhoi yang telah dipesan penerbangan swasta Indonesia untuk penerbangan komersil itu, diakuinya sudah diuji di sejumlah negara lain sebelum diuji di Indonesia, seperti di Myanmar atau negara yang pasarnya terbuka bagi pesawat di luar Boeing, Airbus dan lainnya.

Menurut Hari, di masa lalu semua pesawat yang akan digunakan di Indonesia harus melalui 'review' teknologi oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), namun sejak satu dekade ini tidak dilakukan lagi.

Tuesday, May 8, 2012

Jokowi Gagal? Silahkan Datang Sendiri ke Solo

sumber gambar: solopos.com

Beberapa waktu yang lalu ada sebuah organisasi yang melakukan unjuk rasa di bundaran HI, mereka menolak keras pencalonan Jokowi dan Alex Noerdin sebagai calon Gubernur DKI. Mereka mengatakan Jokowi dan Alex sebagai pemimpin "gagal" di daerahnya masing-masing. Salah satu kegagalan Jokowi yang merupakan Walikota Surakarta tersebut adalah tunggakan listrik Kota Solo pada PLN senilai 13 miliar rupiah. Apakah benar demikian?

Jawabannya "Iya, memang benar". Dan hal tersebut bukanlah merupakan suatu tindak korupsi pejabat daerah yang sengaja ditutup-tutupi. Tunggakan tersebut secara jelas diberitakan di media lokal, dan hal itu merupakan permintaan Jokowi untuk "sedikit telat" membayar biaya listrik PJU yang digunakan untuk menerangi jalanan Kota Solo. Hal itu disampaikan langsung pada pihak PLN, dan PLN pun menyanggupinya. Jadi dimana letak korupsinya? Jokowi pun berkata pasti akan membayarnya, walaupun harus telat karena aturan pada anggaran APBD yang tidak memungkinkan untuk membayarnya saat itu.

Sepertinya, hal semacam tunggakan listrik seperti ini juga terjadi di kota-kota besar di luar negeri. Dan mungkin bukan hanya listrik, parkir misalnya. Menurut saya, siapapun orang yang berkata demikian, bila mungkin ia tidak disuap oleh orang lain yang berusaha menumbangkan popularitas Jokowi, pasti lah ia merupakan orang yang ibarat hanya membaca judul sebuah informasi tanpa membaca keseluruhan isinya. Ibarat sebuah pohon, makin tinggi sebuah pohon, makin besar pula angin yang menerpa pohon tersebut. Itulah yang mungkin dialami Jokowi sekarang.

Bicara tentang gagal atau tidak gagalnya pemerintahan Jokowi di Solo, ada baiknya jika mereka yang masih merasa ragu untuk datang langsung ke Kota Solo. Karena menurut saya, seorang pemimpin yang berhasil adalah pemimpin yang dicintai rakyatnya, meskipun orang dari luar daerah mencibirnya, yang pasti rakyatnya sendiri adalah yang ia pimpin, bukan orang dari daerah lain tersebut yang ia pimpin. Jadi siapa dong yang pantas menilai? Rakyat yang ia pimpin atau orang dari daerah lain? Tentu kita bisa menilainya sendiri. (Andy Catur)
Chez-space.blogspot.com

Share artikel ini:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
"Pembaca yang baik akan meninggalkan komentar dengan nama, bukan hanya "Anonim". Terima Kasih."