:::::: Welcome :: Selamat Datang :: Sugeng Rawuh :: いらっしゃい :::::::

WELCOME TO CHEZ-SPACE.BLOGSPOT.COM | SELAMAT DATANG | JANGAN LUPA FOLLOW YAH | DITUNGGU KOMENTARNYA | THANK YOU
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Wednesday, September 5, 2012

"Out of the Box" Ala Jokowi


Sepertinya saya tidak harus menjelaskan siapa Jokowi, hampir semua masyarakat Indonesia dari sabang hingga merauke pasti sudah tahu dengan Wallikota yang satu ini. Selama hampir dua periode menjabat di Kota Solo, Jokowi banyak menerapkan hal-hal yang bisa dibilang "Out of the Box". Out of the Box dimaksud adalah hal-hal yang tidak seperti pada umumnya, alias gebrakan-gebrakan yang unik.

Setelah dianggap berhasil memimpin Solo, Jokowi mencoba datang ke Jakarta (atau tepatnya didatangkan). Dengan segala kemampuannya ia ingin menata Jakarta dengan semboyan Jakarta Baru. Nah, dalam pertarungan Pilkada DKI Jakarta kali ini pun Jokowi masih terlihat sama seperti saat di Solo, yakni masih tetap mempunyai pikiran dan ide yang "Out of the Box". Seperti apa ide-ide tersebut?

1. Kecelakaan

Jokowi pernah mengatakan jika terpilihnya ia menjadi Walikota Solo adalah faktor kecelakaan. Kala itu rakyat sudah bosan dengan para pemimpin-pemimpin bertampang politikus, sehingga akhirnya rakyat lebih memilih Jokowi yang berwajah "ndeso", begitu kata Jokowi. Dan alasan majunya dalam Pilkada Jakarta kali ini pun ia berkata demikian, yaitu "kecelakaan".

Padahal kita semua tahu jika majunya Jokowi pastilah sudah dipertimbangkan dengan baik-baik oleh partai pendukungnya, jadi bukan faktor "kecelakaan". Namun memang begitulah sifat asli Jokowi, mirip pelawak, ia rendah hati, tak pernah berubah semenjak menjabat Walikota Solo.

2. Baju Kotak-kotak

Saya teringat baju kotak-kotak yang dipakai Jokowi saat dipanggil Megawati bersama Nono Sampono, padahal waktu itu belum ada keputusan final dari partai. Akhirnya sekarang baju kotak-kotak menjadi atribut Jokowi dalam kampanye Pilkada kali ini. "Gila, simpel amat?", begitu pikir saya. Namun bila saya menjadi Jokowi mungkin saya tidak terpikirkan sampai kesana, benar-benar kreatif.

Pertanyaannya, apakah Jokowi sudah menduga bila baju ini sekarang menjadi booming di Indonesia? Bahkan dari pasar hingga toko fashion pun tak ketinggalan ikut menjual baju kotak-kotak Jokowi. Benar-benar booming lho pak ini bajunya.

3. Kampanye Karnaval

Jokowi itu bisa dibilang "Carnival Lovers". Di Solo sendiri saja telah banyak pagelaran karnaval semenjak ia memimpin. Saat kampanye di Jakarta beberapa waktu lalu Jokowi lebih memilih mengadakan Karnaval Kotak-kotak, daripada orasi membosankan. Dan ia memilih tempat karnaval di arena parkir GBK, hanya karena tidak mau merusak rumput di dalam stadion.

4. Anti Poster dan Baliho

Jokowi mengatakan bahwa ia tidak akan memasang poster dan papan baliho yang gede untuk kampanyenya. "Dapat duit dari mana?" katanya. Namun pada kenyataannya ada banyak kok poster dan stiker Jokowi di Jakarta, tapi bukan dari Jokowi sendiri, melainkan dari simpatisan dan para relawan. Wah, jadi bingung saya, soalnya dia benar juga sih. :D

5. Game Flash & YouTube

Meskipun ide tersebut bukan datang dari Jokowi sendiri, namun munculnya sosok Jokowi membuat orang-orang berlomba menunjukkan simpati mereka untuk Jakarta baru. Beberapa diantaranya seperti game flash dengan judul selamatkan Jakarta, atau video di parodi yang diunggah di YouTube.

Jadi, menurut saya terpilih atau tidaknya Jokowi dalam Pilkada Jakarta kali ini adalah keputusan warga Jakarta sendiri. Hanya saja, berkat Jokowi, masyarakat Indonesia seakan-akan diberi angin segar oleh ide-idenya yang "Out of the Box". Oh iya, ada satu lagi nih yang lupa saya sebutkan, Salam Metal..!! - Chez-space.blogspot.com

Share artikel ini:

Thursday, August 30, 2012

Bus Solo - Tawangmangu Sering Ugal-ugalan

Kecelakaan Bus Solo - Tawangmangu

Bus dengan jurusan Solo - Tawangmangu merupakan salah satu sarana transportasi penting di Solo Raya. Bus dengan ukuran besar ini cukup tangguh membawa banyak penumpang dari Kota Solo hingga jalanan Tawangmangu yang curam dan berliku-liku. Bus tersebut kini pun semakin nyaman dengan kebersihan yang selalu dijaga (meskipun tidak semua bus), dan ada juga yang dihias dengan corak artistik. Namun ada satu hal yang sangat mengganggu ketika menumpang bus ini, Sang sopir sering ugal-ugalan layaknya pembalap.

Bukan hanya satu, dua, atau tiga kejadian, teman-teman saya bercerita sangat banyak tentang aksi kebut-kebutan bus ini di jalan raya. Bahkan saya sendiri pun pernah merasakannya saat masih sekolah, sangat tidak nyaman berada didalam sana, seakan-akan kita hanya harus waspada dan percaya pada keahlian balap Sang sopir. Bila Anda terbiasa tinggal di daerah perkotaan, Anda akan berdecak kagum ketika melihat bus ini melaju dengan kecepatan penuh dengan badan yang sebesar itu. Ck, ck, ck.. Tentu diperlukan keahlian sopir yang handal.

Tak masalah bila sopir itu mau menggelar balap bus di jalan milik neneknya sendiri, masalahnya adalah bus ini membawa penumpang dan semua penumpang ingin tiba ditempat tujuan dengan selamat. Selain itu, aksi-aksi tesebut bisa membahayakan pengguna jalan yang lain. Bukan, bukan hanya bisa, tapi pernah, bahkan berkali-kali. Dan untuk yang kemarin, teman saya harus menghembuskan nafas terakhirnya dihantam oleh bus ini. Tragis. Apa karena ukuran besar mereka menjadi tidak peduli dengan pengguna jalan yang lain?

Ironisnya lagi, tidak semua orang merasa terganggu dengan hal itu, terutama remaja. Mereka justru lebih memilih menumpang bus yang bisa ngebut. Alasannya, cepat sampai tujuan dan seru. Dari Terminal Tirtonadi Solo hingga batas Kota Karanganyar sebelah timur kecepatan bus ini masih normal, namun setibanya di luar perkotaan bus ini langsung tancap gas sekencang-kencangnya (terlebih saat pagi hari), begitu juga sebaliknya.

Seharusnya mereka, para sopir bus lebih mengutamakan keselamatan penumpang dan pengendara lain disekitarnya, jangan hanya kejar setoran yang dipentingkan. - Chez-space.blogspot.com

Share artikel ini:

Wednesday, August 29, 2012

Oslo dan Solo, Tak Sekedar Mirip


Oslo dan Solo, kedua nama kota ini sangat mirip meskipun berada di negara berbeda. Sekedar mengingatkan, nama Kota Solo resminya adalah Surakarta, namun branding yang dilakukan pemkot Kota Surakarta untuk pariwisata kota ini memakai nama Solo. Selain itu Wong Solo (sebutan untuk orang yang berdomisili di Solo) lebih sering menyebut nama Solo dalam percakapan sehari-hari dibandingkan Surakarta.

Sementara Oslo sendiri merupakan salah satu nama kota di Norwegia yang juga merupakan Ibukota dari negara tersebut. Jumlah penduduk di Kota Oslo boleh dibilang hampir sama dengan Kota Solo, yakni diangka lima ratus ribuan jiwa, dimana jumlah penduduk Oslo sekitar 590.041 jiwa, sedangkan Solo berpenduduk 503.421 jiwa. Oslo memiliki luas Kota sekitar 45.403 km2, sedangkan Solo 44,03 km2.

Selain kedua hal tersebut, kemiripan Kota Solo dan Oslo adalah dalam bidang transportasi massal. Meskipun harus diakui memang Oslo lebih unggul dan jauh lebih maju dalam hal ini, namun setidaknya Solo juga mampu mengakomodasi transportasi dengan baik dalam skala negara kita sendiri.

 Transportasi massal di Kota Oslo

Transportasi massal di Kota Solo

Beberapa waktu yang lalu, Duta Besar Norwegia untuk Indonesia, Stig Ingemar Traavik, mengunjungi Walikota Solo, Jokowi di rumah dinas walikota Loji Gandrung. Stig tertarik untuk datang ke Solo karena Solo merupakan pusat kebudayaan Jawa dan juga karena rasa penasaran dengan sosok Jokowi yang dikenal ramah dan merakyat. “Saya juga banyak mendengar beliau saat ini sedang mengikuti pemilihan sebagai calon gubernur DKI Jakarta.” kata Stig.

Dalam kesempatan tersebut, Stig juga mengundang Jokowi untuk datang ke ibukota negaranya, Oslo, dan mempelajari sistem transportasi massal yang ada disana. - Chez-space.blogspot.com

Share artikel ini:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
"Pembaca yang baik akan meninggalkan komentar dengan nama, bukan hanya "Anonim". Terima Kasih."